SANG FAJAR TEMPAT BERKREASI TANPA HENTI

Sabtu, 31 Desember 2016

Tahun Baru Masehi Vs Tahun Baru Hijriyah

   Merayakan natal dan tahun baru masehi masih masih menjadi kontroversi di kalangan umat, cendikiawan dan para ulama. Ada beberapa ulama dan cendikiawan beranggapan bahwa tidak apa - apa kita mengikuti perayaan natal dan tahun baru masehi karena itu adalah wujud dari toleransi beragama, Tetapi juga ada para ulama yang beranggapan bahwa mengikuti perayaan natal dan tahun baru masehi hukumnya adalah haram, mereka beranggapan seperti itu karena hal itu sesuai dengan hadist nabi yang menerangkan tentang larangan kita menyerupai suatu kaum.



   Dalam hadist tersebut nabi menerangkan bahwa kita dilarang menyerupai suatu kaum, jika kita mengikuti apa yang di lakukan kaum kafir berarti kita termasuk kedalam golongan orang kafir.

   Menurut pendapat saya dari kedua pendapat di atas bahwa saya agak pro dengan pendapat yang membolehkan karena itu adalah wujud dari toleransi beragama, Tetapi sejujurnya saya sejak masuk SMP saya sudah tidak pernah keluar dari rumah untuk mengikuti euforia dari malam pergantian tahun baru masehi, paling - paling saya hanya ada di rumah ato berkumpul dengan anak - anak karang taruna Sang fajar di balai Rt.

   Dalam perayaan natal dan tahun baru masehi begitu gegap gempita, hal itu membuat saya sedikit berfikir tentang perayaan hari besar islam seperti tahun baru hijriyah dan maulid nabi. Saat perayaan natal dan tahun baru masehi semua orang ramai - ramai menyalakan petasan yang menandakan telah terjadinya pergantian tahun, tetapi apakah itu terjadi pada perayaan tahun baru hijriyah dan maulid nabi apakah semua orang islam berkumpul di suatu titik seperti pada perayaan tahun baru masehi terus bersholawat bersama. Meskipun menurut beberapa pendapat ulama merayakan maulid nabi dan tahun baru hijriyah juga haram.Tetapi menurut saya dari pada kita merayakan natal dan tahun baru masehi yang tidak mendapat apa - apa lebih baik kita merayakan maulid nabi dan tahun baru hijjriyah karena di situ kita mendapat pahala dari sholawat yang kita ucapkan.
Share:

Senin, 19 Desember 2016

Pemuda Bangsa

   Pada postingan kali ini saya akan membahas tentan pemuda bangsa. para pemuda penerus bangsa di masa depan. peran pemuda pada negara ini sangatlah besar dari masa penjajahan hingga sekarang ini, tetapi beberapa tahun belakangan ini ada beberapa kasus kejahatan yang di lakukan oleh para pemuda bangsa. hal ini membuktikan bahwa ada penurunan nilai moral pada para penerus bangsa.

   Bangsa indonesia ini dulunya terkenal dengan orang-orang yang ramah, suka bergotong-royong, suka dengan kebersihan dan selalu peduli. tetapi kenyataannya sekarang ini pemuda indonesia banyak yang egois (memikirkan dirinya sendiri), sering membuang sampah sembarangan dan tidak peduli dengan sekitar. Dari sikap pemuda yang seperti itu akhirnya bayak masuk paham atau aliran sesat yang bisa memprovokasi mereka untuk menjadi teroris atau sebagainya.

   Sudah saatnya para pemuda kembali menumbuhkan rasa cinta negri sendiri, karena jika kondisi pemuda indonesia berlanjut hingga 50 tahun kedepan bangsa indonesia ini akan kesulitan untuk mencari pemimpin negara yang hebat seperti Ir. Soekarno yang berhasil menyatukan bangsa indonesia ini. menumbuhkan rasa cinta negri sendiri pada pemuda dimulai dengan mengenal budaya negara indonesia terlebih dahulu. budaya negara indonesia sangatlah banyak mulai budaya nenek moyang, budaya orang india, portugis, inggris, jepang, belanda dn budaya orang cina yang mereka bawa pada masa kerajaan dan penjajahan dulu. 

   Memiliki banyak budaya bukan berarti kita mudah terpercah belah, tatapi banyak budaya tersebut adalah anugrah yang di berikan tuhan kepada negara kita negara indonesia ini. ada 1 perbedaan yang paling mencolok negara kita dengan negara yang lainnya yaitu negara kita memiliki semboyan "BHINEKA TUNGGAL IKA" yang memiliki arti berbeda-beda tetap satu jua. dengan mengenal negara sendiri dan menumbuhkan rasa cinta terhadap negara dimaksudkan agar para pemuda indonesia terhindar dari golongan extrimisme yang merasa bahwa apa yang diyakininya yang paling benar.
Share:

SANG FAJAR

Pengikut

Contact Us

Nama

Email *

Pesan *